Jumat, 27 April 2012

Manusia dan Penderitaan

Penderitaan adalah peristiwa yang selalu dihindari oleh manusia.
penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. indentitas penderitaan bertingkat-tngkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intentitas penderitaan. suatu peristiwa yang dianggap penderitaan seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. dapat pula suatu penderitaan merupakn energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan atau kebahagiaan. 
akibat penderitaan dapat bermacam-macam.ada yang mendapat hikmah yang besar dan bermanfaat dari suatu penderitaan yang dialami, ada pula ada yang menganggap penderitaan sebagai musibah yang sangat besar  bagi hidupnya.
Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya, antara lain:
- penderitaan karena alasan fisik seperti bencana alam,
- penyakit dan kematian,
- penderitaan karena alasan moral, seperti kekecewaan dalam hidup, meninggalnya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan sebagainya.

berikut ini contoh mengenai penderitaan yang dialami oleh beberapa seorang filsuf yang dapat memberi hikmah :
1.  Penderitaan Kierkegaard (1813-1855)
     Seorang filsuf Denmark, sebelum menjadi seorang filsuf yang besar, masa kecilnya penuh penderitaan. penderitaan yang menimpanya, selain melankoli karena ayahnya yang pernah mengutuk Tuhan dan berbuat dosa melakukan hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan orang anggota keluarganya, termasuk ibunya, selama dua tahun berturut-turut. peristiwa ini menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kierkegaard, dan ia menafsirkan peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat perbuatan ayahnya. keadaan demikian, sebelum Kierkegaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia mencari jalan membebaskan diri (kompensansi) dari cengkeraman derita dengan jalan mabuk-mabukan. karena derita yang tak kunjung padam, Kierkegaaard mencoba mencari "hubungan"  dengan Tuhannya, bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya dari melankoli. akhirnya ia menemukan dirinya sebagai filsuf eksistensial yang besar.
2.   Penderitaan Nietzche (1844-1900)
       Seorang filsuf Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya ketika ia masih kecil. keadaan ini menyebabkan ia suka menyendiri, membaca, dan merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf besar.
3.   Penderitaan Berdijev (1874-1948)
     Seorang filsuf Rusia. sebelum ia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. ia menjadi filsuf  juga akibat menyaksikan masyarakatnya yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.
4.   Penderitaan Sartre (1905-1980)
          Seorang filsuf Paris, Perancis. sejak kecil fisiknya lemah, sensitif, sehingga ia menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. penderitaanlah yang menyebabkan ia belajar keras sehingga menjadi filsuf yang besar.

contoh lainnya :  penderitaan yang dialami oleh pemimpin besar umat Islam yaitu sejak Nabi Muhammad dua bulan didalam kandungan ibunya. kemudian, pada usia 6 tahun, ibunya wafat. dari peristiwa tersebut dapat dibayangkan penderitaan yang dialami Nabi Muhammad. dan juga dapat menjadi saksi sejarah sebelum ia menjadi pemimpin yang paling berhasil menimimpin umatnya (versi Michael Hart dalam Seratus Tokoh BEsar Dunia).

  Penderitaan dapat juga timbul akibat dari noda dosa pada hati manusia (Al-Ghazali, abad ke-11). menurut Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihyaa' Ulumudin,artinya orang yang suka iri hati, hasad, dan dengki akan menderita hukuman lahir-batin, dan selalu akan merasa tidak puas dan tidak kenal berterimakasih.




Sumber: M. Munandar Soelaeman. 2001. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: PT Refika Aditama.  dengan sedikit perubahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar